seonggok jiwa yang hilang tlah mulai menuliskan sebuah cerita.
dia bak berlayar dalam luasnya samudera.
menerjang ombak, melawan hantaman angin, bahkan hujan sekalipun.
dia kuatkan hati dan fokus pada apa yang baru saja ditulisnya.
"pantang pulang sebelum berada di puncaknya", itulah apa yang dia tekankan pada hatinya.
seonggok jiwa yang hilang sedang berada dalam keputus-asaan,
karena dia belayar tanpa tau tujuannya.
dia hanya terus berlayar.. menerjang segala rintangan, dan mengukuhkan keinginannya.
berkali-kali di hadang badai, ia tetap tidak goyah..
sampai suatu ketika..
seonggok jiwa yang hilang itu hampir habis dirampas oleh sang waktu.
kepada sang waktu, ia terus berontak. memohon mengembalikannya ke sisi perahunya.
namun waktu enggan mengembalikannya dan justru menertawainya begitu keras.
di titik terbawahnya...
seonggok jiwa yang baru saja memulai ceritanya itu menyerah pada sang waktu.
"seharusnya aku tau.. jika saja aku sadar bahwa waktu akan selalu mempermainkanku seperti ini... aku tidak akan mau untuk memulai segala hal. aku hanya akan duduk terdiam tanpa harus bersusah-payah mengarungi lautan bersama perahuku. tapi.. seribu kali pun aku berfikir seperti ini... hatiku berontak. bukankah ini lebih baik daripada tidak mencobanya sama sekali? setidaknya kamu sudah berjuang.. menginginkan sesuatu jika tanpa ada usaha, itu sia-sia. dan ini bukanlah hal yang sia-sia untukmu. itulah yang hatiku katakan padaku. jadi aku mengerti... aku baik-baik saja meskipun kamu menelanku habis-habis saat ini."
sang waktu terdiam. merasakan sakit yang sama dengan seonggok jiwa itu.
yang tanpa disadarinya, dia sudah bercucuran air mata.
akhirnya, sang waktu mengikhlaskannya...
dan sejak hari itu, bahkan sang waktu memeluk seonggok jiwa itu dari jauh.
lalu, seonggok jiwa yang baru saja memulai ceritanya itu,
berakhir bahagia dengan apa yang tlah lama ia nantikan...
ia telah menemukan tempat yang dinamakan "RUMAH"
WELCOME TO MY LITTLE SIDE =)
Jumat, 23 Januari 2015
Rabu, 17 Desember 2014
Lelaki dua sisi
dalam batas pandang.. aku masih saja bisa melihatmu.
hangatnya tatap mata itu. yang begitu jarang kau tunjukkan.
aku terhening.. ketika sadar dua sisimu itu.
mungkinkah hanya diriku yang tau,
seberapa dalamnya luka yang menghimpitmu?
siapakah dirimu?
bagaimanakah wujud aslimu?
seperti inikah dirimu?
atau seperti itukah dirimu?
selamat malam kamu.. lelaki diujung jalan diantara gemercik hujan
Kamis, 13 November 2014
Lepaskan Diriku
Cabik-cabiklah diriku. Hancurkanlah segala rasaku.
Tusuk aku tepat didaku. Agar segala rasa ini hilang tak
bersisa.
Renggutlah nyawaku. Hapuslah ingatanku.
Lenyapkan diriku, terbebas dari jerat cintamu.
Aku tak ingin merintih. Aku tak ingin tersiksa.
Karena kamu dan dirimu, membelenggu satu dalam jiwaku.
Lepaskan aku. Bebaskan diriku. Jauhkan aku dari dirimu.
Biarkan nafas ini berdentum berirama.
Biarkan lara ini menepi tanpa sisa.
Dan biarkan luka ini perlahan hilang direnggut waktu.
Kau permata dalam diriku. Kau intan dalam sanubariku.
Bahkan kau segalanya dalam hidupku.
Tapi kau tak pernah bisa.. menjadikan aku permaisurimu.
Kau tak pernah bisa.. menyandingku di singgasana hatimu.
Namun kau hanya bisa.. mengusik mimpi bahagiaku bersamamu,
Meracuni segala rasaku, menghempas asaku denganmu,
Dan mendepak rasa cintaku.. jauh dari sisimu.
Jujurlah... mengapa tak jujur saja, sayang?
Terlalu sulitkah ‘tuk kau ungkapkan?
Sesulit itukah “tidak” untuk kau ucapkan?
Siapalah aku dimatamu, sayang?
Sehina itukah diriku? Sayang........
Jumat, 07 November 2014
Kaulah Kekuatanku
Jangan bersedih.
Apalagi harus menangis.
Jangan lakukan itu.
Jangan tampakkan segalanya.
Jangan biarkan luka
dan sedih merangkulmu. Jangan...
Jangan sendiri.
Jangan bersembunyi.
Dan jangan kalah dari
dunia.
Ibu, dunia memang
kejam.
Meski nampak begitu indah,
dunia juga punya sisi menyedihkannya.
Ibu, dunia mungkin
akan menjadikanmu goyah.
Tapi jangan kalah..
ibu tidak boleh kalah oleh dunia.
Dunia ini mungkin
sebuah permainan,
Tapi ibu tidak boleh
berhasil di permainkan oleh waktu.
Ibu, hapus tangismu.
Jangan menangis...
Karena tangismu
menghancurkan pertahananku.
Kau tidak boleh
goyah, ibu.
Ketika aku jatuh
terlalu dalam, kau tidak boleh ikut jatuh.. ibu.
Karena kau
kekuatanku,
Sulit rasanya
mendengarmu menangisiku.
Ibu, karenamu aku
bertahan.
Karenamu ku temukan
sebuah kekuatan tak tertandingi.
Karenamu ku temukan
sebuah tempat tuk bersandar.
Tapi, ketika kau juga
tlah goyah...
Aku menjadi
kehilangan sandaran, ibu....
Langganan:
Postingan (Atom)