Jumat, 23 Januari 2015

Seonggok Jiwa dan Sang Waktu

seonggok jiwa yang hilang tlah mulai menuliskan sebuah cerita.
dia bak berlayar dalam luasnya samudera.
menerjang ombak, melawan hantaman angin, bahkan hujan sekalipun.
dia kuatkan hati dan fokus pada apa yang baru saja ditulisnya.
"pantang pulang sebelum berada di puncaknya", itulah apa yang dia tekankan pada hatinya.

seonggok jiwa yang hilang sedang berada dalam keputus-asaan,
karena dia belayar tanpa tau tujuannya.
dia hanya terus berlayar.. menerjang segala rintangan, dan mengukuhkan keinginannya.
berkali-kali di hadang badai, ia tetap tidak goyah..

sampai suatu ketika..
seonggok jiwa yang hilang itu hampir habis dirampas oleh sang waktu.
kepada sang waktu, ia terus berontak. memohon mengembalikannya ke sisi perahunya.
namun waktu enggan mengembalikannya dan justru menertawainya begitu keras.

di titik terbawahnya...
seonggok jiwa yang baru saja memulai ceritanya itu menyerah pada sang waktu.
"seharusnya aku tau.. jika saja aku sadar bahwa waktu akan selalu mempermainkanku seperti ini... aku tidak akan mau untuk memulai segala hal. aku hanya akan duduk terdiam tanpa harus bersusah-payah mengarungi lautan bersama perahuku. tapi.. seribu kali pun aku berfikir seperti ini... hatiku berontak. bukankah ini lebih baik daripada tidak mencobanya sama sekali? setidaknya kamu sudah berjuang.. menginginkan sesuatu jika tanpa ada usaha, itu sia-sia. dan ini bukanlah hal yang sia-sia untukmu. itulah yang hatiku katakan padaku. jadi aku mengerti... aku baik-baik saja meskipun kamu menelanku habis-habis saat ini."

sang waktu terdiam. merasakan sakit yang sama dengan seonggok jiwa itu.
yang tanpa disadarinya, dia sudah bercucuran air mata.
akhirnya, sang waktu mengikhlaskannya...
dan sejak hari itu, bahkan sang waktu memeluk seonggok jiwa itu dari jauh.
lalu, seonggok jiwa yang baru saja memulai ceritanya itu,
berakhir bahagia dengan apa yang tlah lama ia nantikan...
ia telah menemukan tempat yang dinamakan "RUMAH"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar